[Egrowth] Kasus Gizi buruk

Vitri Lestari eidarik at indo.net.id
Sun Jun 12 19:38:41 WIT 2005


Salam hangat buat seluruh teman-teman yang concern terhadap 'gizi'.
Saya Vitri, dietisien di RS Marzoeki Mahdi Bogor ingin ikut urun rembug 
mengenai maslaah ini.

Menyinggung permasalahan yang telah Bapak Khaerul paparkan, sebenarnya 
masalah seperti itu tidak hanya di Lombok saja, bahkan selama saya tugas di 
Kabupaten Bogor dan Kota Depok yang notabene adanya berbatasan langsung 
dengan Ibukota DKI Jakarta, kasus gizi buruk banyak dijumpai. Dalam hal ini 
memang, ada kecenderungan saling melempar tanggung jawab dimana jika kita 
bawa persoalan ini ke lintas sektoral, seakan-akan mereka tidak merasa ini 
kasus yang besar!!!! Tetapi jika telah masuk ke dalam koran atau liputan di 
radio maka mereka (baca : kepala pemerintahan) baru sibuk seperti kebakaran 
jenggot!!!

Bahkan tahun 1999, saat Depok menjadi Kota, saya sampai harus mengancam 
BAPPEDA agar dapat mengeluarkan uang lebih bagi kegiatan PSG saat 
itu.Alhamdulillah setelah kejadian itu, kami dari Dinas Kesehatan tidak 
merasa kesulitan jika memberikan proposal untuk kegiatan PSG dan Pemberian 
PMT bagi Balita Gizi buruk. Bagi kami edukasi di awal, sangatlah penting, 
karena jika kita sebagai orang kesehatan salah memberikan maka mereka tidak 
akan pernah mengerti. Dan pada dasarnya memang mereka tidak tahu harus 
bagaimana menghadapi kenyataan karena jika disebutkan banyak kasus gizi 
buruk, maka Pemda harus mengalokasikan sebagian dananya untuk peningkatan 
gizi masayarakat. Akhirnya pembangunan fisik akan terganggu karena 
pengalihan dana tersebut. Jika pengalihan fisik tidak tercapai, maka 
Walikota/Bupati akan merasa "Tidak Berhasil" dalam membangun 
Kota/Kabupatennya. Hal ini berdampak terhadap pandangan politis masyarakat.

Sebagai masyarakat Gizi, saya menghimbau teman-teman di seluruh Dinas 
Kesehatan baik di Kota maupun Kabupaten untuk terus maju dengan memberikan 
edukasi kepada Pemerintah Daerah baik Pimpinan maupun pelaksana. Memang saya 
pernah merasakan kesulitannya melakukan hal tersebut, tetapi jika kita 
memakai issue Gizi Buruk yang saat ini makin merebak, maka kita akan mudah 
untuk meminta bantuan dari mereka.

Semoga pengalaman ini juga dapat memacu teman-teman di Dinas Kesehatan untuk 
semakin maju.
Salam hangat,
Vitri Lestari, AMG, SKM
Nutrisionist RS. dr. Marzoeki Mahdi Bogor.

----- Original Message ----- 
From: <Egrowth-request at gizi.net>
To: <Egrowth at gizi.net>
Sent: Friday, June 10, 2005 11:00 PM
Subject: Egrowth Digest, Vol 11, Issue 2


> Send Egrowth mailing list submissions to
> Egrowth at gizi.net
>
> To subscribe or unsubscribe via the World Wide Web, visit
> http://gizi.net/mailman/listinfo/egrowth_gizi.net
> or, via email, send a message with subject or body 'help' to
> Egrowth-request at gizi.net
>
> You can reach the person managing the list at
> Egrowth-owner at gizi.net
>
> When replying, please edit your Subject line so it is more specific
> than "Re: Contents of Egrowth digest..."
>
>
> Today's Topics:
>
>   1. [Fwd: Urun Rembug Soal Busung Lapar]
>      (Jaringan Gizi Indonesia - Indonesian Nutrition Network)
>
>
> ----------------------------------------------------------------------
>
> Message: 1
> Date: Fri, 10 Jun 2005 10:13:20 +0700 (WIT)
> From: "Jaringan Gizi Indonesia - Indonesian Nutrition Network"
> <info at gizi.net>
> Subject: [Egrowth] [Fwd: Urun Rembug Soal Busung Lapar]
> To: egrowth at gizi.net, gizinet at yahoogroups.com, gklinis at yahoo.com,
> info at gizi.net
> Message-ID: <32196.202.155.5.37.1118373200.squirrel at www.gizi.net>
> Content-Type: text/plain; charset="iso-8859-1"
>
>
>
> ---------------------------- Original Message ----------------------------
> Subject: Urun Rembug Soal Busung Lapar
> From:    "khaerul anwar" <rulanwar at yahoo.com>
> Date:    Fri, June 10, 2005 9:47
> To:      info at gizi.net
> --------------------------------------------------------------------------
>
> Yth. Direktur Gizi Masyarakat Depkes RI
> di-
> Jakarta
>
> Sehubungan dengan maraknya pemberitaan busung lapar di NTB, sebagai warga
> gizi NTB saya ingin menyampaikan uneg-uneg sebagai bagian urun rembug
> nasional soal busung lapar di propinsi kami.
>
> 1. Bagi saya yang sudah 17 tahun mengabdi ngurusi pergizian di NTB,
> masalah busung lapar bukanlah masalah baru. Ia sesuatu yang endemis untuk
> NTB. Pada tahun 2002, saya menemukan 100 lebih kasus di 1 puskesmas di
> Lombok Timur, lengkap dengan foto-fotonya. Bagaimana dengan 125 puskesmas
> lainnya ? Mereka rata-rata punya kasus itu, tapi jarang di-publikasi.
> Bahkan dari DIP Gizi tahun 2002 (kalo tidak salah) kita alokasikan dana
> pelacakan (baca : penangkapan) Rp. 4000 rupiah per kasus. Hasilnya kita
> menemukan lebih dari 2000 kasus dari seluruh NTB. Perkiraan kami waktu itu
> sekitar 10.000 kasus. Tapi yang "berani" dilaporkan sebanyak itu, karena
> ada Dokabu yang terang-terangan tidak mau / berani melaporkan hal itu.
>
> 2. Dalam salah satu kunjungan ke Puskesmas di LOTIM (2003), saya menemukan
> seorang anak marasmus parah usia 2 tahun yang tinggal dengan ibunya di
> tengah ladang tembakau, tidak jauh dari lingkungan pemukiman. Anak itu
> ditinggal sendirian di gubuknya, dengan tanpa makanpun. Ia mengais-ngais
> tanah untuk dimakan. Masya Allah ! Ibunya bekerja membersihkan ladang
> tembakau dengan upah Rp. 3000 per hari. Petugas Puskesmas hanya bisa
> menangis. Katanya : "kasus begini banyak sekali Pak. Saya mau bantu, tapi
> tidak bisa setiap hari ". Mengenaskan sekali, tapi siapa yang peduli ?
> Orang Lombok yang katanya agamis, ternyata lebih ":gemar" bikin masjid
> yang ratusan juta rupiah di setiap RT; daripada membantu sesamanya. Peran
> tokoh agama atau Tuan Guru nampaknya perlu dilibatkan dalam menanggulangi
> masalah ini. Tapi susah juga, banyak Tuan Guru beralih fungsi jadi
> Politikus, jadi anggota DPRD.
>
> 3. Pada tahun 2003 (kalau gak salah) kita sudah mengadakan advokasi ke
> lintas sektoral soal gizi buruk di Hotel Sahid Legi Mataram. Dan ini
> pertemuan gizi buruk yang kesekian kali. Yang hadir beberapa sektor
> terkait di propinsi dan kabupaten Lombok Timur, termasuk DPRD. Tetapi
> sekali lagi (seperti halnya advokasi gizi yang lain) begitu selangkah kaki
> kita keluar dari ruang rapat, masalah gizi buruk terbang kembali ke Jl.
> Amir Hamzah Mataram (Kantor Dikes). Atau kalau mau lebih keren : itu
> menjadi urusan "bersama" yang memerlukan koordinasi lebih lanjut. Atau
> diakhiri dengan kata-kata : kesepakatan ini kita bahas lagi dalam advokasi
> berikutnya. Ini sebenarnya kata-kata orang yang malas mikir, bahwa sesuatu
> yang sulit diberantas selalu diangkat ke atas dengan kata sakti
> "koordinasi", kemudian kita lupakan begitu saja. Secara iseng, saya pernah
> usulkan bahwa anak-anak yang kurus kering perut buncit itu kita ganti saja
> namanya dengan "pangan buruk" atau "kesejahteraan buruk", sehingga
> menjadi urusan pertanian atau urusan BKKBN. Kalau namanya masih "Gizi"
> buruk, maka bagaimanapun canggihnya program koordinasi, kasus itu kembali
> menjadi urusan kesehatan, karena di jajaran dinas kesehatan maupun Depkes
> ada seksi yang berlabel "gizi". Termasuk direktorat "Gizi".
>
> 4. Bagi saya, kalau kasus busung lapar saat ini dikatakan luar biasa,
> sebenarnya tidak juga. Tahun 2003 (kalau tidak salah) RSU mataram menerima
> sekitar 11 orang busung lapar (marasmus, kwashiorkor), dan masuk
> pemberitaan koran setempat (Lombok Post). Kami sempat panik, tetapi begitu
> ketemu dokter spesialisnya, dia bilang : "Saya sengaja panggil wartawan
> untuk memberitakan hal ini, karena saya jengkel biaya PKPS BBM untuk gizi
> buruk di RSU Mataram sudah habis, koq kasusnya datang terus. Ini saja saya
> rawat dengan biaya urunan dengan para perawat yang ada di sal anak. Apa
> saya mau terus begini ?" Sebenarnya waktu  itu kasus busung lapar itu
> hampir setiap hari ada yang dirujuk ke RSU Mataram. Tetapi tidak seribut
> hari-hari begini. Jadi "ributnya" pemberitaan saat ini mestinya juga
> dilihat dari kacamata "kejengkelan" petugas RS terhadap pendanaan
> perawatan gizi buruk di RS.
>
> 5. Soal intervensi, kita di NTB sering punya program bagus. Dalam hal gizi
> buruk kita pernah membuat Panti Asuh Gizi Buruk di desa Sesela Lombok
> Barat. Panti ini berlokasi di wilayah Posyandu (1 posyandu 1 panti).
> Tetapi bukan berupa bangunan khusus, hanya memakai rumah salah satu warga.
> Kegiatannya adalah merehabilitasi gizi buruk "kambuhan" yang baru pulang
> dari Puskesmas atau RS. Waktu diberikan dana stimulan, untuk membeli alat
> masak, kemudian pelatihan kader (yang memasak).  Tapi program ini kemudian
> "pingsan" dan seterusnya tidak sadarkan diri. Nampaknya saat ini program
> seperti ini perlu dihidupkan. Karena bsusung lapar tidak akan pernah
> selesai di RS. Rata-rata mereka "betah" di RS atau Puskesmas tidak lebih
> dari 3 hari. Untuk itu perlu dipikirkan bagaimana mereka bisa "ditangkap"
> begitu keluar dari RS, kemudian diberi asuhan gizi yang memadai. Jadi kita
> butuh "ibu asuh" atau "bapak asuh" di setiap dusun. Petugas Gizi Puskesmas
> dan PERSAGI harus menyusun menu 7 harian atau 10
> harian yang dilatihkan ke kader atau ibu asuh tadi. Soal biaya, saya rasa
> DIP bisa direvisi.
>
> 6. Merebaknya kasus-kasus busung lapar itu juga dipicu oleh "matinya"
> SKPG. Walaupun NTB sudah berkali-kali dilatih, di-capacity building-i,
> namun toh SKPG tidak jalan juga. Penyebabnya : Growth monitoring di
> Posyandu tidak bermutu; indikator SKPG terlalu makro; kalaupun ada masalah
> dari hasil SKPG, tidak ada tindak lanjut (misalnya : disimpulkan suatu
> desa sudah "rawan", lantas tindakan pemerintah apa ? Katanya pemda tidak
> punya dana. Mestinya dana "tak terduga" itu harus ada, sebagai konsekuensi
> dari "kerawanan" yang biasanya tak terduga juga. Tapi sistem anggaran kita
> tidak memperkenankan hal itu.
>
> Demikian uneg-uneg saya, mudah-mudahan bisa menggugah.
>
>
> Khaerul A.
> Mhs S2 UGM Yogyakarta (Staf Dikes NTB)
>
>
>
> ---------------------------------
> Discover Yahoo!
> Have fun online with music videos, cool games, IM & more. Check it out!
>
>
> -- 
> Jaringan Gizi Indonesia - Indonesian Nutrition Network
> http://www.gizi.net/
> email: info at gizi.net
> -------------- next part --------------
> An HTML attachment was scrubbed...
> URL: 
> /pipermail/egrowth_gizi.net/attachments/20050610/811702e0/untitled-2-0001.html
>
> ------------------------------
>
> _______________________________________________
> Egrowth mailing list
> Egrowth at gizi.net
> http://gizi.net/mailman/listinfo/egrowth_gizi.net
>
>
> End of Egrowth Digest, Vol 11, Issue 2
> **************************************
> 




More information about the Egrowth mailing list