[Egrowth] [Fwd: Urun Rembug Soal Busung Lapar]
Jaringan Gizi Indonesia - Indonesian Nutrition Network
info at gizi.net
Fri Jun 10 10:13:20 WIT 2005
---------------------------- Original Message ----------------------------
Subject: Urun Rembug Soal Busung Lapar
From: "khaerul anwar" <rulanwar at yahoo.com>
Date: Fri, June 10, 2005 9:47
To: info at gizi.net
--------------------------------------------------------------------------
Yth. Direktur Gizi Masyarakat Depkes RI
di-
Jakarta
Sehubungan dengan maraknya pemberitaan busung lapar di NTB, sebagai warga
gizi NTB saya ingin menyampaikan uneg-uneg sebagai bagian urun rembug
nasional soal busung lapar di propinsi kami.
1. Bagi saya yang sudah 17 tahun mengabdi ngurusi pergizian di NTB,
masalah busung lapar bukanlah masalah baru. Ia sesuatu yang endemis untuk
NTB. Pada tahun 2002, saya menemukan 100 lebih kasus di 1 puskesmas di
Lombok Timur, lengkap dengan foto-fotonya. Bagaimana dengan 125 puskesmas
lainnya ? Mereka rata-rata punya kasus itu, tapi jarang di-publikasi.
Bahkan dari DIP Gizi tahun 2002 (kalo tidak salah) kita alokasikan dana
pelacakan (baca : penangkapan) Rp. 4000 rupiah per kasus. Hasilnya kita
menemukan lebih dari 2000 kasus dari seluruh NTB. Perkiraan kami waktu itu
sekitar 10.000 kasus. Tapi yang "berani" dilaporkan sebanyak itu, karena
ada Dokabu yang terang-terangan tidak mau / berani melaporkan hal itu.
2. Dalam salah satu kunjungan ke Puskesmas di LOTIM (2003), saya menemukan
seorang anak marasmus parah usia 2 tahun yang tinggal dengan ibunya di
tengah ladang tembakau, tidak jauh dari lingkungan pemukiman. Anak itu
ditinggal sendirian di gubuknya, dengan tanpa makanpun. Ia mengais-ngais
tanah untuk dimakan. Masya Allah ! Ibunya bekerja membersihkan ladang
tembakau dengan upah Rp. 3000 per hari. Petugas Puskesmas hanya bisa
menangis. Katanya : "kasus begini banyak sekali Pak. Saya mau bantu, tapi
tidak bisa setiap hari ". Mengenaskan sekali, tapi siapa yang peduli ?
Orang Lombok yang katanya agamis, ternyata lebih ":gemar" bikin masjid
yang ratusan juta rupiah di setiap RT; daripada membantu sesamanya. Peran
tokoh agama atau Tuan Guru nampaknya perlu dilibatkan dalam menanggulangi
masalah ini. Tapi susah juga, banyak Tuan Guru beralih fungsi jadi
Politikus, jadi anggota DPRD.
3. Pada tahun 2003 (kalau gak salah) kita sudah mengadakan advokasi ke
lintas sektoral soal gizi buruk di Hotel Sahid Legi Mataram. Dan ini
pertemuan gizi buruk yang kesekian kali. Yang hadir beberapa sektor
terkait di propinsi dan kabupaten Lombok Timur, termasuk DPRD. Tetapi
sekali lagi (seperti halnya advokasi gizi yang lain) begitu selangkah kaki
kita keluar dari ruang rapat, masalah gizi buruk terbang kembali ke Jl.
Amir Hamzah Mataram (Kantor Dikes). Atau kalau mau lebih keren : itu
menjadi urusan "bersama" yang memerlukan koordinasi lebih lanjut. Atau
diakhiri dengan kata-kata : kesepakatan ini kita bahas lagi dalam advokasi
berikutnya. Ini sebenarnya kata-kata orang yang malas mikir, bahwa sesuatu
yang sulit diberantas selalu diangkat ke atas dengan kata sakti
"koordinasi", kemudian kita lupakan begitu saja. Secara iseng, saya pernah
usulkan bahwa anak-anak yang kurus kering perut buncit itu kita ganti saja
namanya dengan "pangan buruk" atau "kesejahteraan buruk", sehingga
menjadi urusan pertanian atau urusan BKKBN. Kalau namanya masih "Gizi"
buruk, maka bagaimanapun canggihnya program koordinasi, kasus itu kembali
menjadi urusan kesehatan, karena di jajaran dinas kesehatan maupun Depkes
ada seksi yang berlabel "gizi". Termasuk direktorat "Gizi".
4. Bagi saya, kalau kasus busung lapar saat ini dikatakan luar biasa,
sebenarnya tidak juga. Tahun 2003 (kalau tidak salah) RSU mataram menerima
sekitar 11 orang busung lapar (marasmus, kwashiorkor), dan masuk
pemberitaan koran setempat (Lombok Post). Kami sempat panik, tetapi begitu
ketemu dokter spesialisnya, dia bilang : "Saya sengaja panggil wartawan
untuk memberitakan hal ini, karena saya jengkel biaya PKPS BBM untuk gizi
buruk di RSU Mataram sudah habis, koq kasusnya datang terus. Ini saja saya
rawat dengan biaya urunan dengan para perawat yang ada di sal anak. Apa
saya mau terus begini ?" Sebenarnya waktu itu kasus busung lapar itu
hampir setiap hari ada yang dirujuk ke RSU Mataram. Tetapi tidak seribut
hari-hari begini. Jadi "ributnya" pemberitaan saat ini mestinya juga
dilihat dari kacamata "kejengkelan" petugas RS terhadap pendanaan
perawatan gizi buruk di RS.
5. Soal intervensi, kita di NTB sering punya program bagus. Dalam hal gizi
buruk kita pernah membuat Panti Asuh Gizi Buruk di desa Sesela Lombok
Barat. Panti ini berlokasi di wilayah Posyandu (1 posyandu 1 panti).
Tetapi bukan berupa bangunan khusus, hanya memakai rumah salah satu warga.
Kegiatannya adalah merehabilitasi gizi buruk "kambuhan" yang baru pulang
dari Puskesmas atau RS. Waktu diberikan dana stimulan, untuk membeli alat
masak, kemudian pelatihan kader (yang memasak). Tapi program ini kemudian
"pingsan" dan seterusnya tidak sadarkan diri. Nampaknya saat ini program
seperti ini perlu dihidupkan. Karena bsusung lapar tidak akan pernah
selesai di RS. Rata-rata mereka "betah" di RS atau Puskesmas tidak lebih
dari 3 hari. Untuk itu perlu dipikirkan bagaimana mereka bisa "ditangkap"
begitu keluar dari RS, kemudian diberi asuhan gizi yang memadai. Jadi kita
butuh "ibu asuh" atau "bapak asuh" di setiap dusun. Petugas Gizi Puskesmas
dan PERSAGI harus menyusun menu 7 harian atau 10
harian yang dilatihkan ke kader atau ibu asuh tadi. Soal biaya, saya rasa
DIP bisa direvisi.
6. Merebaknya kasus-kasus busung lapar itu juga dipicu oleh "matinya"
SKPG. Walaupun NTB sudah berkali-kali dilatih, di-capacity building-i,
namun toh SKPG tidak jalan juga. Penyebabnya : Growth monitoring di
Posyandu tidak bermutu; indikator SKPG terlalu makro; kalaupun ada masalah
dari hasil SKPG, tidak ada tindak lanjut (misalnya : disimpulkan suatu
desa sudah "rawan", lantas tindakan pemerintah apa ? Katanya pemda tidak
punya dana. Mestinya dana "tak terduga" itu harus ada, sebagai konsekuensi
dari "kerawanan" yang biasanya tak terduga juga. Tapi sistem anggaran kita
tidak memperkenankan hal itu.
Demikian uneg-uneg saya, mudah-mudahan bisa menggugah.
Khaerul A.
Mhs S2 UGM Yogyakarta (Staf Dikes NTB)
---------------------------------
Discover Yahoo!
Have fun online with music videos, cool games, IM & more. Check it out!
--
Jaringan Gizi Indonesia - Indonesian Nutrition Network
http://www.gizi.net/
email: info at gizi.net
-------------- next part --------------
An HTML attachment was scrubbed...
URL: /pipermail/egrowth_gizi.net/attachments/20050610/811702e0/untitled-2.html
More information about the Egrowth
mailing list