[Egrowth] Re: Egrowth Digest, Vol 6, Issue 1
Hermin Halim
siung99 at yahoo.com
Mon Oct 11 00:40:29 CDT 2004
mengenai penduduk yang budayanya tidak makan sumber
protein, memang ada kesulitan dalam mensosialisasikan
pemberian protein pada masyarakat ybs. tetapi yang
menjadi keraguan saya adalah: bagaimana mereka bisa
hidup dan bekerja tanpa ada makanan sumber protein?
karena bagaimanapun kekurangan protein akan menghambat
kelangsungan hidup mereka, dan sumber protein pun ada
di mana2, tidak hanya hewani saja tetapi juga nabati.
jadi misalnya mereka tidak hanya makan jagung saja
tapi mungkin dihidangkan dengan kacang kedele atau
tempe dsb,di samping juga sayur.
sedangkan anjuran/pedoman konsumsi protein dengan
proporsi 2/3 hewani dan 1/3 nabati, saya kira sangat
baik karena sumber hewani memiliki bioavailabilitas
(tingkat penyerapan zat gizi) yang lebih tinggi
daripada sumber nabati.misalnya kalsium yang ada dalam
susu lebih banyak/sempurna diabsorpsi daripada kedele.
tetapi sebenarnya zat gizi yang diperoleh dari sumber
hewani justru lebih mudah diekskresi daripada sumber
nabati, terutama mineral seperti kalsium. sehingga
perlu ada keseimbangan antara sumber protein hewani
dan nabati, terlebih karena sumber protein hewani
memiliki kelemahan berupa kadar kolesterol & lemak
jenuh yang tinggi sedangkan sumber protein nabati
mempunyai nilai plus, seperti tingginya kandungan PUFA
yang bisa menurunkan kolesterol,selain itu kedele dan
bahan olahannya kaya akan fitoestrogen yang baik untuk
membantu mengatasi problem hormonal wanita.
salam,
hermin halim, apoteker
--- Egrowth-request at gizi.net wrote:
> Send Egrowth mailing list submissions to
> Egrowth at gizi.net
>
> To subscribe or unsubscribe via the World Wide Web,
> visit
> http://gizi.net/mailman/listinfo/egrowth_gizi.net
> or, via email, send a message with subject or body
> 'help' to
> Egrowth-request at gizi.net
>
> You can reach the person managing the list at
> Egrowth-owner at gizi.net
>
> When replying, please edit your Subject line so it
> is more specific
> than "Re: Contents of Egrowth digest..."
>
>
> Today's Topics:
>
> 1. Re: Info gizi
> (Jaringan Gizi Indonesia - Indonesian
> Nutrition Network)
> 2. RE: Re: Info gizi (ita atmarita)
>
>
>
----------------------------------------------------------------------
>
> Message: 1
> Date: Fri, 8 Oct 2004 00:10:56 -0500 (CDT)
> From: "Jaringan Gizi Indonesia - Indonesian
> Nutrition Network"
> <info at gizi.net>
> Subject: [Egrowth] Re: Info gizi
> To: cahyat at cbn.net.id, egrowth at gizi.net
> Message-ID:
> <1073.202.155.5.43.1097212256.squirrel at 202.155.5.43>
> Content-Type: text/plain;charset=iso-8859-1
>
> Email Anda akan kami forward ke mailing list
> gizi.net. Mudah-mudahan ada
> yang response. Namun secara umum menurut ilmu gizi
> dianjutkan mengkonsumsi
> protein hewani 2/3 dari kebutuhan protein dan
> protein nabati 1/3 dari
> kebutuhan protein. Sedangkan kebutuhan rata-rata per
> orang per hari sesuai
> rekomendasi Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi 2004
> adalah 52 gr protein
> dan 2000 kalori.
> Semoga aa yang merespon lebih lanjut.
>
> Salam
> admin gizinet
>
> > Kepada
> > Yth, Bapak/Ibu pengelola Gizi.Net
> >
> > Salam hormat,
> >
> > Saya bekerja di program Kemiskinan dan
> Desentarlisasi yang merupakan
> > bagian dari program lembaga penelitian kehutanan
> internasional berkantor
> > di Bogor CIFOR (Center for International Forestry
> Research)
> > www.cifor.cgiar.org <http://www.cifor.cgiar.org/>
> . Saat ini kami
> > sedang membangun model sistem monitoring
> kesejahteraan masyarakat
> > bersama dengan 2 pemerintah kabupaten di Kalimanta
> Timur yaitu Kabupaten
> > Kutai Barat dan Kab.Malinau.
> >
> > Salah satu indikator yang akan kami gunakan
> berkaitan dengan pangan dan
> > gizi yaitu konsumsi protein. Produk yang ingin
> kami ukur adalah ikan
> > atau daging atau talur.
> >
> > Apakah Bapak/Ibu punya informasi tentang seberapa
> sering seharusnya satu
> > orang atau satu rumahtangga mengkonsumsi
> produk-produk tersebut?,
> > artinya kalau lebih jarang dari itu maka dapat
> dikatakan tidak
> > sejahtera.
> >
> > Sebelumnya, saya ucapkan terimakasih atas
> perhatiannya.
> >
> > Salam,
> > Ade Cahyat
> >
> > CIFOR-BMZ Poverty & Decentralization
> > Field facilitator
> > Jl.Lignit K.130 Swargabara. Sangatta. Kaltim
> > Phone: 0549-22126.
> >
> > Office:
> > Center for International Forestry Research
> > PO Box 6596 JKPWB
> > Jakarta 10065
> > Indonesia
> > Tel: 62-251-622-622 FAX 62-251-622-100
> >
>
>
>
>
> ------------------------------
>
> Message: 2
> Date: Fri, 08 Oct 2004 06:05:03 +0000
> From: "ita atmarita" <atmarita at hotmail.com>
> Subject: RE: [Egrowth] Re: Info gizi
> To: info at gizi.net, Egrowth at gizi.net,
> cahyat at cbn.net.id
> Message-ID:
> <BAY1-F3WY9IuXZ2y2Fk00002848 at hotmail.com>
> Content-Type: text/plain; format=flowed
>
>
> Kalau tujuannya untuk mengukur kemiskinan atau
> kesejahteraan, barangkali
> kurang tepat hanya melihat konsumsi protein. WHO
> mengukur kemiskinan jika
> pengeluaran pangan dibanding non pangan >=70%. Hal
> ini berkaitan dengan
> kebutuhan basic setiap orang: food, social and
> cultural life, primary
> education, health, dan favorable living and
> environmental conditions
> (clothing, shelter, water, air, etc).
> Jadi, jika pengeluaran pangan saja sudah mengambil
> 70% proporsi pengeluaran
> rumah tangga, berarti basic need yang lain hanya
> terpenuhi dengan 30% saja.
> Selanjutnya, dari yang dikonsumsi setiap hari < 70%
> AKG (berdasarkan angka
> kecukupan gizi 2000 Kkal, dan 52 gram protein)
> dikatakan defisit. Jika
> defisit ini terjadi setiap hari, berarti ada masalah
> ketahanan pangan.
>
> Masalah ketahanan pangan berkaitan dengan kemiskinan
> di Indonesia masih
> sangat serius, kita masih belum bisa melihat dari
> sisi kualitas untuk
> menulai kemiskinan/kesejahteraan. Yang baik tertunya
> setiap orang
> mengkonsumsi gizi seimbang, terdiri dari semua zat
> gizi dan terpenuhi
> kebutuhan rata-rata setiap individu berdasarkan AKG.
>
> 2200 Kkal dan 52 gram protein bisa diterjemahkan
> setiap konsumsi sumber
> protein hewani kurang lebih 50 gram/kali makan; dan
> juga protein nabati 50
> gram/kali makan. Jenis protein ehwani bisa
> berganti-ganti, ikan atau daging
> atau telur.
> Menurut pendapat saya, menilai
> kemiskinan/kesejahteraan berdasarkan konsumsi
> protein hewani saja barangkali perlu dibahas lagi,
> karena faktor kebiasaan
> makan/bidaya/ dan lain-lain. Bagaimana dengan
> penduduk yang budayanya tidak
> makan sumber protein?
>
> Barangkali, perlu ditinjau dulu, sehingga penetapan
> indikator
> kemiskinan/kesejahteraan menajdi lebih tepat.
>
>
> Wass,
>
> Atmarita
> Nutrition Surveillance Division
> The Ministry of Health, Indonesia
> Ph/Fax: (021)527-7382
>
>
>
>
> ----Original Message Follows----
> From: "Jaringan Gizi Indonesia - Indonesian
> Nutrition Network"
> <info at gizi.net>
> Reply-To: info at gizi.net, Egrowth at gizi.net
> To: cahyat at cbn.net.id, egrowth at gizi.net
> Subject: [Egrowth] Re: Info gizi
> Date: Fri, 8 Oct 2004 00:10:56 -0500 (CDT)
>
> Email Anda akan kami forward ke mailing list
> gizi.net. Mudah-mudahan ada
> yang response. Namun secara umum menurut ilmu gizi
> dianjutkan mengkonsumsi
> protein hewani 2/3 dari kebutuhan protein dan
> protein nabati 1/3 dari
> kebutuhan protein. Sedangkan kebutuhan rata-rata per
> orang
=== message truncated ===
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.
http://promotions.yahoo.com/new_mail
More information about the Egrowth
mailing list