[Egrowth] Re: anemia vs pil besi?

Dini Latief dini_latief at litbang.depkes.go.id
Mon May 31 21:36:36 EDT 2004


Dear Ita,
Terima kasih omelannya yang tajam, tapi kan ngomelin diri sendiri lebih
etis daripada ngomelin orang lain. Jangan putus asa, kerja terus, tidak
perlu besar besar, katanya kayak netesin garam ke laut, cukup kecil sesuai
kemampuan kita tapi konsisten dan terus mengikuti kemajuan iptek juga.
Karena sudah desentralisasi dahulukan kab/kota yang mau menjalankan SPMnya
dengan baik. Kan sudah jelas sederet SPM perbaikan gizi masyarakat di
Kepmenkes 1457/2003.
Depkes juga lamban sih membuat panduan ikutannya, panduan operasional,
panduan cost analysis/DHA. Feb lalu sudah keluar competency based SDM kes.
Bagus jadi mulai dari pangkal, sabar dan harus bersinergi antar program.
Sukses dan jalan terus,
Wassalam,
DL

> Dear all,
>
> Asyik juga ini diskusinya. Saya mau nimbrung, kebetulan ada di meja
> saya dalam bentuk print out, biasalah dalam birokratisasi diskusi dalam
> bentuk e-mail di print kemudian ditambah kertas disposisi, dengan
> tulisan ...”Mohon responsenya”....mudah-mudahan ini belum terlambat,
> maklum lah banyak disposisi lain yang tidak kalah pentingnya. Kalau
> saya terima dalam bentuk e-mail ke e-mail saya ini, biasanya langsung
> saya ”rensponse” kan di komputer tinggal klik ”reply” atau ”delete”.....
>
> OK, saya mulai,
>
> Sebagai pengamat program gizi, saya melihat banyak yang tidak beres,
> dan harus segera diselesaikan. Kelihatannya mudah, ternyata tidak,
> karena banyak para pelaksana program gizi yang merencanakan program ini
> asal saja, tidak melihat kiri kanan, tapi semua berdasarkan ”pokoknya”
> rencana selesai, hasilnya ??? ya....”pokoknya” nanti dilihat lagi.
> Sekarang, pertanyaannya kenapa terjadi demikian? Ternyata rencana
> program yang diawali dengan ”pokoknya” ini juga dari lingkungan sekitar
> para perencana program gizi. Jadi yang salah siapa? Kita semua kali
> ya....yang terbiasa merencanakan program tanpa dasar dan tidak pernah
> berupaya melihat sekitarnya.....padahal sekarang kan sudah banyak
> pesawat – tapi sayangnya para perencana program kita ini hanya sering
> pergi menggunakan pesawat, tapi tidak pernah melihat permasalahan
> tersebut dari pesawat, akhirnya ya tadi itu ....”pokoknya” kita harus
> ke daerah dan rapat disana membahas permasalahan yang ada.....
>
> OK, kembali ke penanggulangan anemia untuk ibu hamil, secara nasional
> kita kan tidak pernah melakukan penanggulangan anemia untuk
> semua. ”Pokoknya” distribusi pil besi pada ibu hamil cukuplah, yang
> penting si ibu selamat dulu melahirkan, begitu bayinya lahir ...lha koq
> anemia bayinya ? dan tidak tanggung-tanggung – kata SKRT 60% bayi <6
> bulan anemia....wow.....lho....ASInya gimana ya ? hanya sanggup 13%
> eksklusif sampai 6 bulan, yang lain ...ibunya harus kerja
> keras.....cari duit untuk kasih makan anggota rumah tangga
> lainnya...soalnya bapaknya ya...kerja sich, tapi hanya jadi satpam,
> maklumlah hanya tamat SD......,malam pulang capek, yang dikerjain
> istrinya lagi....eh ..hamil lagi, lho koq? Ya abis mau beli pil KB
> nggak punya duit....., si Bapak lebih penting beli rokok.......,
> akhirnya kurang makan, lahir lagi bayi dan ya anemia lagi......ya
> sudah, ”pokoknya”  bayinya dibeliin MP-ASI sajalah – suka nggak suka –
> yang penting selamat dulu tiga bulan ini....terus???? ”pokoknya’ nanti
> kita lihat lagi ....
>
> Wach pusing dech, kalau hanya satu rumah tangga sich tidak masalah,
> kalau merencanakan program menggunakan metode ”pokoknya”. Masalahnya di
> Indonesia itu kan ada 25 juta rumah tangga yang kurang makan setiap
> harinya, ini hasil SKPG lho ...jalan enggaknya sistem ini kan sangat
> tergantung dari ”pelakunya” mau melakukan kajian data, selama pelakunya
> sibuk dengan yang lain ...ya SKPG katanya...tidak akan memberikan
> informasi .....alias tidak jalan.
>
> Balik lagi ke 25 juta RT yang kurang makan, kenapa sich? – ya miskin ?
> kenapa miskin ? ya nggak ada kesempatan kerja apalagi untuk bersaing –
> gimana mau bersaing ? mungkin Susenas 2003 itu benar juga – ada 25%
> orang dewasa laki-laki yang hidup di Indonesia ini tidak punya ijazah,
> 33% hanya puas punya ijazah SD, 15% punya ijazah SLTP, 20% punya ijazah
> SLTA, dan kurang dari 5% bangga hanya sampai Diploma I keatas. Dewasa
> perempuan nya ??? ya lebih parah lagi hampir 35% tidak punya
> ijazah ......dampaknya apa? Hanya 5% dari kabupaten/kota di Indonesia
> ini yang penduduk miskinnya kurang dari 5%, selebihnya ....ya orang
> miskinnya lebih banyak lagi!!!!!!
>
> Lho katanya Indonesia kaya....dengan ”resources” – siapa yang
> menggali ? ya tidak ada lah, penduduknya hanya sanggup jadi satpam dan
> buruh kasar koq...dan lebih parah anemi lagi!!! Makin malas aja kerja,
> bukan malas sich, hanya kalau kerja cepat capek!!!
>
> Jadi gimana nich?
>
> Koq masalah di selesaikan dengan masalah? Lho ..iya kan! Ini kan di
> Indonesia, banyak orang pinter tapi ........entahlah ....banyak
> pekerjaan yang sudah baik, jadi dirusak di negara ini.
>
> Serius nich, jadi bagaimana ?
> Mari kita bahaslah dengan kepala dingin, rame2 naik pesawat, kita amati
> dengan cermat permasalahannya – (jangan dari meja kerja dan meja rapat –
>  nanti nggak kelihatan), kemudian sama-sama kita tulis seluruh
> permasalahan – jangan ditulis aja lho – masing-masing bertanya kenapa
> begini – kenapa begitu , bagaimana kalau begini dan bagaimana kalau
> begitu – pastinya menjawabnya dengan kajian lho – references? – saya
> yakin kita semua sudah punya banyak rujukan, hanya aplikasi dan
> implementasinya tidak pernah terjadi. Mari kita sama-sama menggunakan
> semaksimal mungkin seluruh hasil penelitian, workshop, seminar, dan
> lain-lain yang sudah beribu kali dibahas oleh para orang pinter di
> negara ini.
>
> Mari kita renungkan (eh jangan ....) kita kaji bersama – berapa dari
> duit pinjaman yang kita gunakan itu dapat berhasil guna untuk
> masyarakat di Indonesia, bagaimana merubah persepsi program kita selama
> ini yang ”thin on the ground” menjadi ”thick on the ground”. Mari mulai
> kita kurangi aktivitas dalam bentuk jalan-jalan dan rapat (dalam DIP
> tertulis ”perjalanan” dan ”photo copy”) menjadi bentuk yang lebih
> konkrit agar pil besi sampai ke ibu hamil, kader menjadi aktif
> melakukan pemantauan dan ’pemberdayaan’ masyarakat, sehingga ibu mau
> memberikan ASInya secara eksklusif, bapaknya tidak membeli rokok,
> kepala desa dan pak camat berpartisipasi aktif mendukung segala bentuk
> intervensi agar yakin sampai ke masyarakat, Bupati berani bertindak
> dengan mengeluarkan peraturan daerah, dstnya, dstnya, dstnya....
>
> Jadi? Bagaimana dengan anemia ibu hamil yang dikasih pil besi ?
> Ya...ternyata bukan ini permasalahannya.....
>
> OK,
> Wass,
> Atmarita
>
>




More information about the Egrowth mailing list