[Egrowth] anemia vs pil besi?

atmarita at gizi.net atmarita at gizi.net
Mon May 31 00:42:57 EDT 2004


Dear all,

Asyik juga ini diskusinya. Saya mau nimbrung, kebetulan ada di meja 
saya dalam bentuk print out, biasalah dalam birokratisasi diskusi dalam 
bentuk e-mail di print kemudian ditambah kertas disposisi, dengan 
tulisan ...”Mohon responsenya”....mudah-mudahan ini belum terlambat, 
maklum lah banyak disposisi lain yang tidak kalah pentingnya. Kalau 
saya terima dalam bentuk e-mail ke e-mail saya ini, biasanya langsung 
saya ”rensponse” kan di komputer tinggal klik ”reply” atau ”delete”.....

OK, saya mulai,

Sebagai pengamat program gizi, saya melihat banyak yang tidak beres, 
dan harus segera diselesaikan. Kelihatannya mudah, ternyata tidak, 
karena banyak para pelaksana program gizi yang merencanakan program ini 
asal saja, tidak melihat kiri kanan, tapi semua berdasarkan ”pokoknya” 
rencana selesai, hasilnya ??? ya....”pokoknya” nanti dilihat lagi. 
Sekarang, pertanyaannya kenapa terjadi demikian? Ternyata rencana 
program yang diawali dengan ”pokoknya” ini juga dari lingkungan sekitar 
para perencana program gizi. Jadi yang salah siapa? Kita semua kali 
ya....yang terbiasa merencanakan program tanpa dasar dan tidak pernah 
berupaya melihat sekitarnya.....padahal sekarang kan sudah banyak 
pesawat – tapi sayangnya para perencana program kita ini hanya sering 
pergi menggunakan pesawat, tapi tidak pernah melihat permasalahan 
tersebut dari pesawat, akhirnya ya tadi itu ....”pokoknya” kita harus 
ke daerah dan rapat disana membahas permasalahan yang ada.....

OK, kembali ke penanggulangan anemia untuk ibu hamil, secara nasional 
kita kan tidak pernah melakukan penanggulangan anemia untuk 
semua. ”Pokoknya” distribusi pil besi pada ibu hamil cukuplah, yang 
penting si ibu selamat dulu melahirkan, begitu bayinya lahir ...lha koq 
anemia bayinya ? dan tidak tanggung-tanggung – kata SKRT 60% bayi <6 
bulan anemia....wow.....lho....ASInya gimana ya ? hanya sanggup 13% 
eksklusif sampai 6 bulan, yang lain ...ibunya harus kerja 
keras.....cari duit untuk kasih makan anggota rumah tangga 
lainnya...soalnya bapaknya ya...kerja sich, tapi hanya jadi satpam, 
maklumlah hanya tamat SD......,malam pulang capek, yang dikerjain 
istrinya lagi....eh ..hamil lagi, lho koq? Ya abis mau beli pil KB 
nggak punya duit....., si Bapak lebih penting beli rokok......., 
akhirnya kurang makan, lahir lagi bayi dan ya anemia lagi......ya 
sudah, ”pokoknya”  bayinya dibeliin MP-ASI sajalah – suka nggak suka – 
yang penting selamat dulu tiga bulan ini....terus???? ”pokoknya’ nanti 
kita lihat lagi ....

Wach pusing dech, kalau hanya satu rumah tangga sich tidak masalah, 
kalau merencanakan program menggunakan metode ”pokoknya”. Masalahnya di 
Indonesia itu kan ada 25 juta rumah tangga yang kurang makan setiap 
harinya, ini hasil SKPG lho ...jalan enggaknya sistem ini kan sangat 
tergantung dari ”pelakunya” mau melakukan kajian data, selama pelakunya 
sibuk dengan yang lain ...ya SKPG katanya...tidak akan memberikan 
informasi .....alias tidak jalan.

Balik lagi ke 25 juta RT yang kurang makan, kenapa sich? – ya miskin ? 
kenapa miskin ? ya nggak ada kesempatan kerja apalagi untuk bersaing – 
gimana mau bersaing ? mungkin Susenas 2003 itu benar juga – ada 25% 
orang dewasa laki-laki yang hidup di Indonesia ini tidak punya ijazah, 
33% hanya puas punya ijazah SD, 15% punya ijazah SLTP, 20% punya ijazah 
SLTA, dan kurang dari 5% bangga hanya sampai Diploma I keatas. Dewasa 
perempuan nya ??? ya lebih parah lagi hampir 35% tidak punya 
ijazah ......dampaknya apa? Hanya 5% dari kabupaten/kota di Indonesia 
ini yang penduduk miskinnya kurang dari 5%, selebihnya ....ya orang 
miskinnya lebih banyak lagi!!!!!!

Lho katanya Indonesia kaya....dengan ”resources” – siapa yang 
menggali ? ya tidak ada lah, penduduknya hanya sanggup jadi satpam dan 
buruh kasar koq...dan lebih parah anemi lagi!!! Makin malas aja kerja, 
bukan malas sich, hanya kalau kerja cepat capek!!!

Jadi gimana nich? 

Koq masalah di selesaikan dengan masalah? Lho ..iya kan! Ini kan di 
Indonesia, banyak orang pinter tapi ........entahlah ....banyak 
pekerjaan yang sudah baik, jadi dirusak di negara ini.

Serius nich, jadi bagaimana ?
Mari kita bahaslah dengan kepala dingin, rame2 naik pesawat, kita amati 
dengan cermat permasalahannya – (jangan dari meja kerja dan meja rapat –
 nanti nggak kelihatan), kemudian sama-sama kita tulis seluruh 
permasalahan – jangan ditulis aja lho – masing-masing bertanya kenapa 
begini – kenapa begitu , bagaimana kalau begini dan bagaimana kalau 
begitu – pastinya menjawabnya dengan kajian lho – references? – saya 
yakin kita semua sudah punya banyak rujukan, hanya aplikasi dan 
implementasinya tidak pernah terjadi. Mari kita sama-sama menggunakan 
semaksimal mungkin seluruh hasil penelitian, workshop, seminar, dan 
lain-lain yang sudah beribu kali dibahas oleh para orang pinter di 
negara ini. 

Mari kita renungkan (eh jangan ....) kita kaji bersama – berapa dari 
duit pinjaman yang kita gunakan itu dapat berhasil guna untuk 
masyarakat di Indonesia, bagaimana merubah persepsi program kita selama 
ini yang ”thin on the ground” menjadi ”thick on the ground”. Mari mulai 
kita kurangi aktivitas dalam bentuk jalan-jalan dan rapat (dalam DIP 
tertulis ”perjalanan” dan ”photo copy”) menjadi bentuk yang lebih 
konkrit agar pil besi sampai ke ibu hamil, kader menjadi aktif 
melakukan pemantauan dan ’pemberdayaan’ masyarakat, sehingga ibu mau 
memberikan ASInya secara eksklusif, bapaknya tidak membeli rokok, 
kepala desa dan pak camat berpartisipasi aktif mendukung segala bentuk 
intervensi agar yakin sampai ke masyarakat, Bupati berani bertindak 
dengan mengeluarkan peraturan daerah, dstnya, dstnya, dstnya.... 

Jadi? Bagaimana dengan anemia ibu hamil yang dikasih pil besi ? 
Ya...ternyata bukan ini permasalahannya.....

OK, 
Wass,
Atmarita




More information about the Egrowth mailing list